January 13, 2009

Soul Food for our Children

Our children are the future of our life. Nurture our children and nourish their soul with love. Love without anger, love without deceit.

Grow genuine smile to our children. Smile that should be beaming with joy, cultivated by parents who truly respect and adore each other. Enhanced by love as the spirit in spinning the wheel of life. Love to our spouse, love to our children, love to good life.

Feed our children with noble dreams. Bestow our children with audacity, so they can survive in the evolving globe.

Let our children fight for their beliefs. Lead them by moral instance.

Love our children….the beauty of our life.

November 19, 2008

Penjahat Cinta, oleh Nirmala Trisna

kurobek-robek hatimu
perih tak berdarah
tenggelam di samudra
tercabik terkena jangkar
terberai tiada rupa

cinta kadaluarsa, oleh nirmalatrisna

kemarin katanya kamu cinta padaku
kamu bilang hanya aku yang meluluhkan jantungmu
kemarin katanya cuma aku yang kamu rindu
di hatimu ada aku melulu

kenapa sekarang kamu bilang sayangmu kadaluarsa
ibarat kecap cap kadal, katamu cinta bisa usang
kecap lama dibuang, tanpa rasa sayang
aku terpana, terguncang, ibarat pohon mau tumbang

*terinspirasi oleh perceraian artis Indonesia yang beralasan cintanya sudah kadaluarsa*

Terapi Cinta, oleh Nirmala Trisna

Lunglai badanku

Berat kelopak mataku

Kuras habis airku

Hanya satu terapiku

…Aroma tubuhmu

November 15, 2008

Tentang Cinta

*Nirmala's translation on "The Prophet: On Love" by Kahlil Gibran*


Lalu Almitra berkata, “Katakan kepada kami tentang Cinta.”

Dan ia mengangkat kepalanya serta menatap orang-orang di sekelilingnya, dimana kesunyian meliputi mereka. Lalu dengan suara bijak ia berkata:

Saat engkau memutuskan untuk mengikuti cinta,

Walaupun jalannya sulit dan terjal.

Dan saat sayap-sayapnya memelukmu rapat,

Walau pedang tersembunyi di antara sayap itu dapat melukaimu. Dan saat ia berucap kepadamu penuh keyakinan,

Meski suaranya dapat menghancurkan mimpi-mimpimu seperti angin utara yang memporak-porandakan taman.

Demi cinta yang menjadi mahkotamu sehingga ia dapat menyiksamu. Walau ia ada untukmu tumbuh sehingga iapun bisa memotongmu.

Walau ia dapat melayang di tempat ketinggianmu dan mengusap ranting-ranting rapuhmu yang bergetar di bawah mentari,

Hingga ia mampu turun ke akarmu dan menggoyang pelukanmu ke bumi. Seperti sekumpulan pipih jagung, ia membuatmu menyatu dengannya.

Ia melucutimu dan menelanjangimu.

Ia menarikmu keluar dari sangkarmu.

Ia meluluhkanmu hingga lantak.

Ia menyentuhmu ke titik terlembutmu;

Dan kemudian ia menuntunmu ke api suci, sehingga engkau menjadi sajian suci bagiNya.

Semua ini maha karya cinta hingga engkau membuka rahasia hatimu, serta pada akhirnya menjadi bagian dari jantung Kehidupan.

Namun jika dalam ketakutan engkau hanya mencari kedamaian dan kenikmatan cinta,

Lebih baik untukmu jika engkau tutup keterbukaanmu dan tergolek pada lantai cinta,

Menuju dunia tanpa musim dimana engkau akan tertawa, namun bukan semua tawamu, dan tersedu, namun bukan tangismu.

Cinta tidak lain hanya memberi cinta pun jua mengambil cinta.

Cinta memiliki namun jua tak bisa dimiliki; Karena cinta cukup untuk cinta. Saat engkau mencinta, janganlah berucap,”Tuhan ada dalam hatiku,” namun katakan, “Aku ada dalam hatiNya.”

Dan jangan kira engkau mampu mengarahkan cinta, jika engkau layak, cinta akan mengarahkanmu.

Cinta tak berhasrat selain memenuhi cinta itu sendiri.

Namun jika engkau mencinta dan patut berhasrat, miliki hasrat-hasrat ini:

Mengalir seperti alur sungai yang mengalun menuju malam.

Mengetahui kepedihan atas terlampau banyak kelembutan.

Terluka karena pemahamanmu sendiri atas cinta;

Dan berdarahlah atas kemauanmu sendiri penuh cita.

Terbangun di kegelapan pagi dengan hati lapang serta bersyukur atas hari penuh cinta;

Terbaring di siang hari dan merenungkan kenikmatan cinta;

Kembali pulang di senja hari penuh syukur;

Lalu tidur dengan doa kepada yang terkasih di hatimu dan pujian yang mengalir dari bibirmu.


June 25, 2007

Jatuh Cinta Tanpa Kompromi, oleh Nirmala Trisna

Aku jatuh cinta lagi,
benar-benar cinta, tanpa teka-teki
sejak mata menatapnya pertama kali
benar-benar tanpa kompromi

*to my youngest son: Alarik Prestaka

January 30, 2007

Warna dunia untuk anak-anakku, oleh Nirmala Trisna

Kutanyakan padamu
Dunia seperti apa yang kamu mau
Kamu tak menjawabku
Hanya menatapku dengan mata bulatmu

Kukatakan padamu
Kusiapkan dunia penuh warna
Karena dunia tak sekedar hitam, putih dan kelabu
tak semua asli, banyak pula yang semu

Kusirami berbagai warna pada sukmamu
Kubekali palet dan kuas untuk dirimu
Agar engkau warnai dunia sesuai larasmu
Dalam dunia, dengan atau tanpa diriku

January 13, 2007

Kepompong Cinta, oleh Nirmala Trisna

Aku seperti kepompong

Terbungkus lapisan cinta

Membuatku tak berdaya

Hingga tiba nanti waktunya

Kepompong berubah rupa

Mengembang membawa cinta

December 4, 2006

Cinta Ibu Sepanjang Jaman, oleh Nirmala Trisna

Pernah aku marah padamu

Begitu marah sampai nafas menderu

Saat kamu tak mau mendengar ucapku

Saat kamu berbuat tak seperti mauku

Kutinggikan nada suaraku

Kujauhkan diriku padamu

Sampai reda emosiku

Sampai air mengalir dari mata mungilmu

Hilangkah cintaku padamu?

Bagaimana denganmu, masihkah aku menjadi pujaanmu?

Pelukan hangat dan kecupan lembut

Menjadi bukti, lebih dari cukup

November 25, 2006

Perempuan bertanya cinta, oleh Nirmala Trisna

Seorang perempuan bertanya,
mengapa aku begitu mencintaimu
sepenuh hati dan ragaku
Jawab laki-laki itu,
karena aku datang membawa cinta
hanya untukmu

Perempuan bertanya lagi,
mengapa aku masih bisa mencintai buah cinta kita,
tanpa mengurangi cintaku untukmu
Jawab laki-laki itu,
karena insan kecil ini pun datang
membawa cinta hanya untukmu

Perempuan bertanya kembali,
bisakah aku mencintai lagi, cinta kita yang berbuah kembali
tanpa mengurangi cintaku yang telah ada
Jawab laki-laki itu,
setiap insan darimu membawa cinta
untuk engkau, bunda